SELAMAT DATANG

DAPATKAN INFO-INFO PENTING SEPUTAR DUNIA PERTANIAN DAN PETERNAKAN

Senin, 27 April 2009

MEMBUAT KOMPOS dengan inokulan Rummino Bacillus (RB)



Kini isu pertanian organik makin kuat diwacanakan sejalan dengan makin diminatinya produk-produk pangan organik, makin mahalnya pupuk buatan pabrik (an organik) serta makin dirasakannya kerusakan lingkungan akibat penggunaan pupuk pabrikan secara terus menerus. Dalam dasa warsa terakhir penggunaan pupuk organik makin diminati berbagai pihak, baik petani maupun pengusaha pertanian meskipun sifat masih partial.



Diantara bahan baku pupuk organik yang jumlahnya relatif besar dan mutunya paling baik adalah kotoran ternak. Hal ini sebenarnya telah disadari para petani, khususnya petani kebun dan sayur mayur. Karena itu sudah sejak lama para petani kopi, cengkeh atau sayur-mayur umumnya juga memelihara ternak. Sehingga secara tradisional integrasi tanaman industri dan sayuran dengan ternak telah dilakukan sejak dahulu kala. Karena para petani amat memerlukan kotoran ternak tersebut sebagai bahan pupuk.



Namun umumnya untuk membuat pupuk organik masih dilakukan secara tradisional. Dimana kotoran ternak ditumpuk begitu saja sehingga fermentasi berjalan secara alamiah, sehingga mutu kompos yang dihasilkan kurang memadai. Untuk memperoleh mutu kompos yang baik diperlukan teknih pengolahan kotoran secara baik. Kini beberapa teknik pengomposan secara modern telah ditemukan. Melalui penerapan teknologi maju ini akan diperoleh kompos secara lebih cepat dengan mutu yang lebih baik.



Diantara teknik yang ditemukan oleh BPTP Bali adalah dengan menggunakan inokulan“ Rummino Bacillus “ atau sering disebut RB. Fermentor ini terdiri dari 2 unsur bakteri, yakni Rummino Coccus yang memiliki fungsi sebagai dekomposer dan Bacillus thuringiensis yang berfungsi sebagai dekomposer, serta merupakan biofestisida, yang membantu memproteksi tanaman dari gangguan bakteri-bakteri pathogen.



Sebelum digunakan, bibit RB diaktivasi lebih dahulu dengan cara sebagai berikut:
- Siapkan air steril, yang bukan berasal dari air PAM dalam sebuah wadah steril pula. Jika berasal dari air sungai atau air hujan harus dipanaskan lebih dahulu, kemudian didinginkan.
- Setelah dingin, kedalam air tersebut dimasukkan gula putih sebanyak 0,5% atau seperdua ratus dari berat air. Misalnya volume air 10 liter maka diperlukan gula pasir 50 gram.
- Ke dalam larutan tersebut dimasukkan bibit RB sebanyak 0,5% dari volume air . Misalnya pada air 10 liter diperoleh bibit RB 50 cc atau sekitar 10 sendok makan.
- Air diaduk, lalu bagian atas wadah ditutup dengan niru, plastik atau penutup lain yang bersih
- Taruh larutan tersebut pada tempat yang teduh dan biarkan sekitar 30 menit. Setelah itu, larutan siap digunakan.



Untuk membuat kompos bisa dengan media khusus, berupa bak beton. Bisa pula dengan membuat lubang pada tanah. Kedalam lubang atau bak tersebut kotoran ternak dimasukan secara bertahap.Pada tahap pertama masukkan kotoran ternak ke dalam media pembuaatan kompos setebal 5 – 10 cm . Selanjutnya siram kotoran tersebut dengan larutan RB hingga merata. Kemudian masukkan kotoran lagi setebal 5-10cm, dan siram lagi dengan larutan RB secara merata. Demikian seterusnya hingga kotoran ternak habis terolah. Pada bagian atas kotoran ditutup dengan plastik, terpal atau penutup lain yang bersih untuk mempertahankan suhu, kelembaban serta mengurangi penguapan. Sebaiknya media pengomposan ternaungi oleh atap atau pepohonan agar tidak terkena panas matahari dan hujan. Setelah 12-15 hari proses fermentasi, kompos sudah jadi. Kompos bisa dibongkar dari media, kemudian di angin-anginkan ditempat yang teduh 1-2 hari.Selanjutnya bisa dikemas atau digunakan dilapangan.
Dari segi kualitas, kompos yang diproduksi dengan proses fermentasi yang menggunakan teknologi baru ini jauh lebih baik. Dimana kandungan N dan K meningkat,menjadi rata-rata 41.30% dan 43.98 ppm.

Penggunaan dilapangan tergantung dari jenis tanaman dan pola pemupukan. Pada tanaman kopi dan kakao umur 4-7 tahun dapat diberikan sebanyak 10 kg/pohon /tahun dengan dua kali aplikasi,yaitu pada awal dan akhir musim hujan masing-masing 5kg/pohon. Aplikasinya dengan membuat lubang melingkar sejajar dengan lebar canopy daun, sedalam 30-40cm. Kemudian kompos dimasukkan kelubang tanah, lalu ditutup dengan tanah hasil galian. Pada tanaman padi penggunaanya pada tahap awal sekitar 2 ton per ha per musim, dengan tetap memberikan pupuk mineral (urea ,SP –36,Kcl) sebanyak 50% dari dosis anjuran. Bila aplikasi dari pemupukan tepat akan diperoleh peningkatan produktifitas kopi atau kakao dibandingkan dengan penggunaan kompos konvensional. Demikian pula pada padi. Kombinasi penggunaan pupuk organik dan an-organik akan dapat meningkatkan produktifitas bila dibandingkan dengan menggunakan pupuk pabrik saja.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar